“Dalam sejarah yahudi tepatnya diperkampungan miskin
kadang-kadang ada anak-anak yang belum pernah mendapatkan sekerat daging yang
dimasak sampai hangat,tapi kau tidak akan pernah melihat mereka tanpa
buku-buku” .
Pendidikan
Yahudi
Dalam sebuah perjalanan ke Betlehem, Yerome, seorang ahli
sejarah dari abad keempat sangat kagum melihat anak-anak Yahudi di daerah itu.
Kekagumannya terutama adalah karena pengetahuan anak-anak Yahudi yang luar
biasa terhadap Kitab Suci. Mereka menghafal betul sejarah dari Adam sampai
Zerubabel.
Kekaguman yang sama muncul pada era 40-an. Sebuah bangsa
yang terserak itu tiba-tiba lahir sebagai sebuah negara merdeka dengan sistem
pertanian paling canggih di Timur Tengah dan menguasai perekonomian dunia.
Bahkan, negara sekaliber Amerika Serikat, sanggup mereka taklukkan dalam
berbagai aspek kehidupan.
Apa yang melatarbelakanginya? Salah satunya adalah sistem
pendidikannya yang luar biasa. Sejak zaman Musa, tradisi mendidik anak sudah
menjadi tradisi keagamaan Yahudi (Ul. 6:4-9), dan tradisi itu, bukan sekedar
dipelihara, tetapi juga dikembangkan. Mereka tidak segan-segan meniru sistem
pendidikan pagan dan memadukannya dengan sistem pendidikan di Bait Allah yang
berorientasi kepada TUHAN.
Sebuah traktat yang berasal dari koleksi tulisan rabinik
(Mishna) Yahudi berasal dari abad
pertama bertuliskan, “Pada umur lima tahun (seorang anak disiapkan untuk
mempelajari) Kitab Tora; sepuluh
tahun untuk Tora Lisan (Oral Tora); tiga belas tahun untuk Bar Mitswa; lima belas tahun untuk halakhot (keputusan rabinik yang
bersifat legal); delapan belas tahun untuk pernikahan; dua puluh tahun untuk
mencari kerja; tiga puluh tahun untuk memasuki masa dewasa penuh.”
Pendidikan merupakan hal yang sangat dihargai di kalangan
Yahudi bahkan sebelum berkembangnya filsafat-filsafat modern di Yunani. Karena
itu, wajar jika Yosefus, seorang sejarahwan Yahudi dari abad pertama, dalam
bukunya berjudul Melawan Apion
mengatakan, “Di atas semuanya itu, kita patut bangga atas diri kita karena
pendidikan kita terhadap anak-anak kita, dan penghargaan kita atas tugas
esensial dalam kehidupan kita, menanamkan hukum dan perbuatan-perbuatan mulia
berdasarkan semuanya itu, dan itu telah mengakar dalam masyarakat kita.”
Sistematika pendidikan di kalangan Yahudi sejak zaman
dulu memang luar biasa, di dalam Talmud dijumpai perkataan berikut, “Jumlah
maksimal murid-murid dasar yang harus diajar oleh seorang guru adalah dua puluh
orang; jika ada lima puluh murid, haruslah disediakan seorang guru tambahan;
jika ada empat puluh murid, seorang murid senior haruslah menjadi asisten sang
guru” (Bava Batra).
Pada abad pertama Masehi, setiap sinagoge memiliki Beth Sefer (sekolah dasar) dan Beth Midrash (sekolah lanjutan)-nya
sendiri-sendiri. Murid-murid diajarkan untuk menguasai Tora dan tradisi-tradisi lisan. Biasanya, pendidikan formal baru
berakhir pada usia dua puluh atau tiga puluh tahun. Namun, beberapa pelajar
yang dianggap mendapat karunia tertentu akan tetap melanjutkan pendidikannya di
Beth Midrash. Biasanya merekalah yang
kelak menjadi seorang Rabbi.
Orang mungkin berpikir bahwa sinagoge adalah tempat
beribadah, dimana ibadah (dalam arti ritual) lebih penting dari segalanya.
Kenyataannya tidak demikian, dalam tradisi Yahudi, pendidikan dan ibadah tidak
dipisahkan. Keduanya dianggap sama sederajat, bahkan dalam sebuah Talmud
Babilonia disebutkan bahwa belajar Tora
merupakan bentuk ibadah yang paling tinggi.
Karena itu, merupakan hal yang wajar jika di dalam
masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, seorang guru dihormati sederajat dengan
seorang imam. Itulah yang juga menjadikan Ahli Tora, kalangan Ferushim,
dan kalangan Tsadukim menjadi sangat
populer pada zaman Yesus. Yesus sendiri, menjadi sosok yang sangat dikagumi
salah satunya karena ia adalah seorang Rabbi.
Hal positif yang dapat kita ambil dari tradisi pendidikan
Yahudi adalah: Pertama, anggapan
bahwa pendidikan itu setara dengan ibadah; Kedua,
moral yang baik dianggap sebagai buah dari pendidikan yang matang (band 1Ptr.
1:5-7); Ketiga, pendidikan keluarga
sebagai awal pendidikan; Keempat,
pembekalan anak secara sistematis; Kelima,
keyakinan bahwa bukan kemampuan manusia yang dapat menggali kedalaman ilmu,
tetapi ALLAH yang menyatakannya dalam banyak cara, dan tugas manusia adalah
mencari tahu penyataan itu; Keenam;
sistem pendidikan itu sendiri yang berlangsung secara dinamis serta terbuka
terhadap dunia luar.
Poin-poin ini mesti diperhatikan ketika kita
membangun sebuah sistem pendidikan anak muda dalam gereja. Hal ini penting
mengingat anak muda Kristenlah yang kelak akan menentukan masa depan gereja itu
sendiri.
Paradigma
Hidup Yahudi
Yahudi adalah identitas nasional
bukan identitas agama
•
Untuk identitas nasional maka dibuatlah zionisme yakni nasionalisme suatu bangsa yang belum punya negara
•
Dengan adanya zionisme maka muncul pula protokol zion yang memuat pandangan hidup yahudi dadalam
Protokol Zion disebut ; Yahudi, Israel adalah Makhluk Pilihan Tuhan, oleh
karena itu mereka harus kendalikan dunia.
Filsafat
pendidikannya :
•
Ontologi : Pendidikan adalah sarana untuk berkuasa
•
Epistemologi : pendidikan harus dilakukan sepanjang hayat.
Tidak ada yang sempurna (tanyakan terus). Lakukan yang terbaik. Belajar adalah
bagian dari ibadah. Pahami prosesnya bukan produk (misal : pahami proses-proses
terbentuknya HP bukan hanya menggunakannya), pahami bagaimana terbentuknya
rumus bukan hanya bisa menggunakannya.
•
Aksiologi :
v Pengetahuan
adalah kekayaan yang paling nyata
v Jaga diri
sendiri maka yang lain akan menjagamu
v Orang sukses
adalah para professional dan wirausahawan
v Kembangkan
kepercayaan diri
v Selektif
v Banggalah
jadi diri sendiri dan kreatiflah
v Buktikan
sesuatu
SISTEM PENDIDIKAN DARI SEJARAH DAN NILAI
Sebuah traktat yang berasal dari
koleksi tulisan rabinik (Mishna) Yahudi berasal dari abad pertama
bertuliskan, “Pada umur lima tahun (seorang anak disiapkan untuk mempelajari)
Kitab TAURAT; sepuluh tahun untuk TAURAT Lisan (Oral Tora);
tiga belas tahun untuk Bar Mitswa; lima belas tahun untuk halakhot (keputusan
rabinik yang bersifat legal); delapan belas tahun untuk pernikahan; dua puluh
tahun untuk mencari kerja; tiga puluh tahun untuk memasuki masa dewasa penuh.”
• di dalam Talmud dijumpai perkataan
berikut, “Jumlah maksimal murid-murid dasar yang harus diajar oleh seorang guru
adalah dua puluh orang; jika ada lima puluh murid, haruslah disediakan seorang
guru tambahan; jika ada empat puluh murid, seorang murid senior haruslah
menjadi asisten sang guru” (Bava Batra).
• dalam tradisi Yahudi, pendidikan dan
ibadah tidak dipisahkan. Keduanya dianggap sama sederajat, bahkan dalam sebuah
Talmud Babilonia disebutkan bahwa belajar TAURAT merupakan bentuk ibadah
yang paling tinggi.
• BAHKAN setiap sinagoge (tempat
ibadah yahudi) memiliki Beth Sefer (sekolah dasar) dan Beth Midrash (sekolah
lanjutan)-nya sendiri-sendiri.
Rata rata anak yahudi memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan
Inggris.
Sejak kecil mereka telah dilatih bermain piano dan
biola. Ini adalah suatu kewajiban
Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat
meningkatkan IQ.
Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.Ini menurut saintis
Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.
Fakta lain sistem pendidikan Yahudi
1. Seorang
Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca,
menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja,
mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga
membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada
yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke
orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya
untuk anaknya yang masih didalam kandungan.
2. Ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih
banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang
tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan
harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan
otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code
oil lever).
3. Menu diatur
sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak
akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan
ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan
seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja,
tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan
roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya
membuat ngantuk dan malas berkerja.
4. Di Isarel, merokok itu tabu ! Mereka memiliki hasil penelitian
dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan
merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si
perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh
yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau
“dungu”.
5. Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan
konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu
syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah,
dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang),
harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya
mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 %
perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design “Levis” terakhir
diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas “business and fashion“.
6. Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak,
Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang
mudah untuk “fokus” dalam berpikir !
PEMBELAJARAN
Hal
positif yang dapat kita ambil dari tradisi pendidikan Yahudi adalah: Pertama,
anggapan bahwa pendidikan itu setara dengan ibadah; Kedua, moral yang
baik dianggap sebagai buah dari pendidikan yang matang; Ketiga,
pendidikan keluarga sebagai awal pendidikan; Keempat, pembekalan anak
secara sistematis; Kelima, keyakinan bahwa bukan kemampuan manusia yang
dapat menggali kedalaman ilmu, tetapi YHWH/ALLAH/Isa Almasih/Yesus/Tuhan yang menyatakannya dalam banyak
cara, dan tugas manusia adalah mencari tahu penyataan itu; Keenam;
sistem pendidikan itu sendiri yang berlangsung secara dinamis serta terbuka
terhadap dunia luar. Dan tidak kalah pentingnya adalah peranan orang tua di dalam pendidikan harus nyata dan intensitasnya harus kuat. bukanlah peranan pembantu yang harus ditingkatkan tetapi BAPA dan IBU yang bisa mempengaruhi anak-anak di dalam pendidikan.

No comments:
Post a Comment