Renungan Hati: February 2014

Thursday, February 27, 2014

Yahudi dan Pendidikan



“Dalam sejarah yahudi tepatnya diperkampungan miskin kadang-kadang ada anak-anak yang belum pernah mendapatkan sekerat daging yang dimasak sampai hangat,tapi kau tidak akan pernah melihat mereka tanpa buku-buku” .



Pendidikan Yahudi

Dalam sebuah perjalanan ke Betlehem, Yerome, seorang ahli sejarah dari abad keempat sangat kagum melihat anak-anak Yahudi di daerah itu. Kekagumannya terutama adalah karena pengetahuan anak-anak Yahudi yang luar biasa terhadap Kitab Suci. Mereka menghafal betul sejarah dari Adam sampai Zerubabel.

Kekaguman yang sama muncul pada era 40-an. Sebuah bangsa yang terserak itu tiba-tiba lahir sebagai sebuah negara merdeka dengan sistem pertanian paling canggih di Timur Tengah dan menguasai perekonomian dunia. Bahkan, negara sekaliber Amerika Serikat, sanggup mereka taklukkan dalam berbagai aspek kehidupan.

Apa yang melatarbelakanginya? Salah satunya adalah sistem pendidikannya yang luar biasa. Sejak zaman Musa, tradisi mendidik anak sudah menjadi tradisi keagamaan Yahudi (Ul. 6:4-9), dan tradisi itu, bukan sekedar dipelihara, tetapi juga dikembangkan. Mereka tidak segan-segan meniru sistem pendidikan pagan dan memadukannya dengan sistem pendidikan di Bait Allah yang berorientasi kepada TUHAN.

Sebuah traktat yang berasal dari koleksi tulisan rabinik (Mishna) Yahudi berasal dari abad pertama bertuliskan, “Pada umur lima tahun (seorang anak disiapkan untuk mempelajari) Kitab Tora; sepuluh tahun untuk Tora Lisan (Oral Tora); tiga belas tahun untuk Bar Mitswa; lima belas tahun untuk halakhot (keputusan rabinik yang bersifat legal); delapan belas tahun untuk pernikahan; dua puluh tahun untuk mencari kerja; tiga puluh tahun untuk memasuki masa dewasa penuh.”

Pendidikan merupakan hal yang sangat dihargai di kalangan Yahudi bahkan sebelum berkembangnya filsafat-filsafat modern di Yunani. Karena itu, wajar jika Yosefus, seorang sejarahwan Yahudi dari abad pertama, dalam bukunya berjudul Melawan Apion mengatakan, “Di atas semuanya itu, kita patut bangga atas diri kita karena pendidikan kita terhadap anak-anak kita, dan penghargaan kita atas tugas esensial dalam kehidupan kita, menanamkan hukum dan perbuatan-perbuatan mulia berdasarkan semuanya itu, dan itu telah mengakar dalam masyarakat kita.”
Sistematika pendidikan di kalangan Yahudi sejak zaman dulu memang luar biasa, di dalam Talmud dijumpai perkataan berikut, “Jumlah maksimal murid-murid dasar yang harus diajar oleh seorang guru adalah dua puluh orang; jika ada lima puluh murid, haruslah disediakan seorang guru tambahan; jika ada empat puluh murid, seorang murid senior haruslah menjadi asisten sang guru” (Bava Batra).
Pada abad pertama Masehi, setiap sinagoge memiliki Beth Sefer (sekolah dasar) dan Beth Midrash (sekolah lanjutan)-nya sendiri-sendiri. Murid-murid diajarkan untuk menguasai Tora dan tradisi-tradisi lisan. Biasanya, pendidikan formal baru berakhir pada usia dua puluh atau tiga puluh tahun. Namun, beberapa pelajar yang dianggap mendapat karunia tertentu akan tetap melanjutkan pendidikannya di Beth Midrash. Biasanya merekalah yang kelak menjadi seorang Rabbi.
Orang mungkin berpikir bahwa sinagoge adalah tempat beribadah, dimana ibadah (dalam arti ritual) lebih penting dari segalanya. Kenyataannya tidak demikian, dalam tradisi Yahudi, pendidikan dan ibadah tidak dipisahkan. Keduanya dianggap sama sederajat, bahkan dalam sebuah Talmud Babilonia disebutkan bahwa belajar Tora merupakan bentuk ibadah yang paling tinggi.
Karena itu, merupakan hal yang wajar jika di dalam masyarakat Yahudi pada zaman Yesus, seorang guru dihormati sederajat dengan seorang imam. Itulah yang juga menjadikan Ahli Tora, kalangan Ferushim, dan kalangan Tsadukim menjadi sangat populer pada zaman Yesus. Yesus sendiri, menjadi sosok yang sangat dikagumi salah satunya karena ia adalah seorang Rabbi.
Hal positif yang dapat kita ambil dari tradisi pendidikan Yahudi adalah: Pertama, anggapan bahwa pendidikan itu setara dengan ibadah; Kedua, moral yang baik dianggap sebagai buah dari pendidikan yang matang (band 1Ptr. 1:5-7); Ketiga, pendidikan keluarga sebagai awal pendidikan; Keempat, pembekalan anak secara sistematis; Kelima, keyakinan bahwa bukan kemampuan manusia yang dapat menggali kedalaman ilmu, tetapi ALLAH yang menyatakannya dalam banyak cara, dan tugas manusia adalah mencari tahu penyataan itu; Keenam; sistem pendidikan itu sendiri yang berlangsung secara dinamis serta terbuka terhadap dunia luar.
Poin-poin ini mesti diperhatikan ketika kita membangun sebuah sistem pendidikan anak muda dalam gereja. Hal ini penting mengingat anak muda Kristenlah yang kelak akan menentukan masa depan gereja itu sendiri.




Paradigma Hidup Yahudi

        Yahudi adalah identitas nasional bukan identitas agama

•          Untuk identitas nasional maka dibuatlah zionisme yakni nasionalisme suatu bangsa yang belum punya negara

              Dengan adanya zionisme maka muncul pula protokol zion yang memuat pandangan hidup yahudi dadalam Protokol Zion disebut ; Yahudi, Israel adalah Makhluk Pilihan Tuhan, oleh karena itu mereka harus kendalikan dunia. 


Filsafat pendidikannya : 
      Ontologi : Pendidikan adalah sarana untuk berkuasa
      Epistemologi : pendidikan harus dilakukan sepanjang hayat. Tidak ada yang sempurna (tanyakan terus). Lakukan yang terbaik. Belajar adalah bagian dari ibadah. Pahami prosesnya bukan produk (misal : pahami proses-proses terbentuknya HP bukan hanya menggunakannya), pahami bagaimana terbentuknya rumus bukan hanya bisa menggunakannya.
      Aksiologi :
v  Pengetahuan adalah kekayaan yang paling nyata
v  Jaga diri sendiri maka yang lain akan menjagamu
v  Orang sukses adalah para professional dan wirausahawan
v  Kembangkan kepercayaan diri
v  Selektif
v  Banggalah jadi diri sendiri dan kreatiflah
v  Buktikan sesuatu
 



        SISTEM PENDIDIKAN DARI SEJARAH DAN NILAI

        Sebuah traktat yang berasal dari koleksi tulisan rabinik (Mishna) Yahudi berasal dari abad pertama bertuliskan, “Pada umur lima tahun (seorang anak disiapkan untuk mempelajari) Kitab TAURAT; sepuluh tahun untuk TAURAT Lisan (Oral Tora); tiga belas tahun untuk Bar Mitswa; lima belas tahun untuk halakhot (keputusan rabinik yang bersifat legal); delapan belas tahun untuk pernikahan; dua puluh tahun untuk mencari kerja; tiga puluh tahun untuk memasuki masa dewasa penuh.”

      • di dalam Talmud dijumpai perkataan berikut, “Jumlah maksimal murid-murid dasar yang harus diajar oleh seorang guru adalah dua puluh orang; jika ada lima puluh murid, haruslah disediakan seorang guru tambahan; jika ada empat puluh murid, seorang murid senior haruslah menjadi asisten sang guru” (Bava Batra).

        dalam tradisi Yahudi, pendidikan dan ibadah tidak dipisahkan. Keduanya dianggap sama sederajat, bahkan dalam sebuah Talmud Babilonia disebutkan bahwa belajar TAURAT merupakan bentuk ibadah yang paling tinggi.
       • BAHKAN setiap sinagoge (tempat ibadah yahudi) memiliki Beth Sefer (sekolah dasar) dan Beth Midrash (sekolah lanjutan)-nya sendiri-sendiri. 

      Rata rata anak yahudi memahami tiga bahasa, Hebrew, Arab dan Inggris. 
      Sejak kecil mereka telah  dilatih bermain piano dan biola. Ini adalah suatu kewajiban
      Menurut mereka bermain musik dan memahami not dapat meningkatkan IQ. 
      Sudah tentu bakal menjadikan anak pintar.Ini menurut saintis Yahudi, hentakan musik dapat merangsang otak.
   
      Fakta lain sistem pendidikan Yahudi
      1. Seorang Yahudi Hamil, maka sang ibu segera saja meningkatkan aktivitasnya membaca, menyanyi dan bermain piano serta mendengarkan musik klasik. Tidak itu saja, mereka juga segera memulai untuk mempelajari matematika lebih intensif dan juga membeli lebih banyak lagi buku tentang matematika. mempelajarinya, dan bila ada yang tidak diketahui dengan baik, mereka tidak segan-segan untuk datang ke orang lain yang tahu matematika untuk mempelajarinya. Semua itu dilakukannya untuk anaknya yang masih didalam kandungan.
     2. Ibu yang menyususi bayi nya itu, mereka memilih lebih banyak makan kacang, korma dan susu. Siang hari, makan roti dengan ikan yang tanpa kepala serta salad. Daging ikan dianggap bagus untuk otak dan kepala ikan harus dihindari karena mengandung zat kimia yang tidak baik untuk pertumbuhan otak si anak. Disamping itu sang ibu diharuskan banyak makan minyak ikan (code oil lever).
      3. Menu diatur sedemikian rupa sehingga didominasi oleh ikan. Bila ada daging, mereka tidak akan makan daging bersama-sama dengan ikan,karena mereka percaya dengan makan ikan dengan daging hasilnya tidak bagus untuk pertumbuhan. Makan ikan seyogyanya hanya makan ikan saja, bila makan daging , hanya makan daging saja, tidak dicampur. Makan pun, mereka mendahulukan makan buah-buahan baru makan roti atau nasi. Makan nasi dulu baru kemudian makan buah, dipercaya akan hanya membuat ngantuk dan malas berkerja.
      4. Di Isarel, merokok itu tabu ! Mereka memiliki hasil penelitian dari ahli peneliti tentang Genetika dan DNA yang meyakinkan bahwa nekotin akan merusak sel utama yang ada di otak manusia yang dampaknya tidak hanya kepada si perokok akan tetapi juga akan mempengaruhi “gen” atau keturunannya. Pengaruh yang utama adalah dapat membuat orang dan keturunannya menjadi “bodoh” atau “dungu”. 
      5. Satu dari 6 anak Yahudi, diajarkan matematik dengan konsep yang berkait langsung dengan bisnis dan perdagangan. Ternyata salah satu syarat untuk lulus dari Perguruan Tinggi bagi yang Majoring nya Bisnis, adalah, dalam tahun terakhir, dalam satu kelompok mahasiswa (terdiri dari 10 orang), harus menjalankan perusahaan. Mereka hanya dapat lulus setelah perusahaannya mendapat untung 1 juta US Dollar. Itulah sebabnya, maka lebih dari 50 % perdagangan di dunia dikuasai oleh orang Yahudi. Design “Levis” terakhir diciptakan oleh satu Universitas di Israel, fakultas “business and fashion“.
       6. Olah raga untuk anak-anak, diutamakan adalah Menembak, Memanah dan Lari. Menembak dan Memanah, akan membentuk otak cemerlang yang mudah untuk “fokus” dalam berpikir !
   

       PEMBELAJARAN
Hal positif yang dapat kita ambil dari tradisi pendidikan Yahudi adalah: Pertama, anggapan bahwa pendidikan itu setara dengan ibadah; Kedua, moral yang baik dianggap sebagai buah dari pendidikan yang matang; Ketiga, pendidikan keluarga sebagai awal pendidikan; Keempat, pembekalan anak secara sistematis; Kelima, keyakinan bahwa bukan kemampuan manusia yang dapat menggali kedalaman ilmu, tetapi YHWH/ALLAH/Isa Almasih/Yesus/Tuhan yang menyatakannya dalam banyak cara, dan tugas manusia adalah mencari tahu penyataan itu; Keenam; sistem pendidikan itu sendiri yang berlangsung secara dinamis serta terbuka terhadap dunia luar. Dan tidak kalah pentingnya adalah peranan orang tua di dalam pendidikan harus nyata dan intensitasnya harus kuat. bukanlah peranan pembantu yang harus ditingkatkan tetapi BAPA dan IBU yang bisa mempengaruhi anak-anak di dalam pendidikan.